Saat kumelihat binar matamu, kurasa getar yg begitu dalam. Menusuk perih di sela rongga dada. Getaran itu merambat diantara luka, entah bagaimana. Perlahan getaran itu menutup pori_pori luka, entah mengapa.
ku terluka, walau telah kesekian lama.
kuterpana, walau kau masih jauh disana
kumerasa nyeri, di dada ini.
kumerasakanya dengan getaran yang sama, dengan getaran yang sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar